PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

YUMI F1

YUMI F1
Nomor SK Kementan: 2074/Kpts/SR.120/5/2010
Rekomendasi Dataran: Rendah - Menengah
Ketahanan Penyakit*: BW
Umur Panen (HST)*: 50 - 60
Bobot per Buah (g)*: 130 - 150
Potensi Hasil (ton/ha)*: 60 - 70
PVT: -

*) Ketahanan penyakit, umur panen, bobot dan potensi hasil tergantung pada lingkungan dan perlakuan budidayanya.

Terong panjang ungu hibrida cocok untuk dataran rendah - menengah, tahan layu bakteri, bentuk buah silindris dan panjang, mengkilat, 24 x 5 cm, bobot 125 g/buah.  Mulai panen umur 50 - 55 HST dengan potensi hasil 2,5 - 3,5 kg/tanaman, 60 - 90 ton/ha

A. PERSIAPAN LAHAN
Tanah dibajak dengan traktor, kemudian disisir. Pengolahan tanah kedua dilakukan dengan membuat bedengan sementara dengan lebar ±110 cm, jarak antar bedengan minimal 50 cm.
Pupuk kandang dan kapur pertanian ditabur diatas permukaan tanah dua minggu sebelum tanam dengan kebutuhan untuk luasan bedengan 25 m2:
Pupuk kandang ayam    : 100 kg
Kapur pertanian        : 10 kg
Pupuk dasar berupa NPK, ZA, Superphos dan KCl dengan perbandingan 5 : 2 : 4 : 5. Tambahkan 20 kg Carbofuran kedalam 800 kg campuran pupuk dasar. Campuran pupuk dasar diberikan sepuluh hari sebelum tanam dengan kebutuhan untuk luas bedengan 25 m2 (± 84 populasi) sebanyak 10 kg campuran pupuk di atas. Setelah itu bedengan langsung ditutup mulsa. Penggunaan mulsa plastik warna hitam untuk lapisan bawah dan warna perak untuk lapisan atas. Pemasangan mulsa plastik ini sebaiknya dilakukan pada siang hari sewaktu matahari sedang terik-teriknya sehingga mulsa plastik dapat ditarik dan dikembangkan secara maksimal.

B. PERSEMAIAAN
Benih terong termasuk agak lambat berkecambah, maka sebelum semai benih sebaiknya direndam dengan air yang dicampur fungisida 1,5 ml/l dan bakterisida 1 – 1,5 g/l atau dengan air hangat kuku (35oC – 40oC) selama ½ jam . Setelah direndam benih ditiriskan kemudian disemai pada pot tray atau mini polybag dengan diameter  5 cm, bisa dibuat dari plastik es yang dipotong - potong atau daun pisang dengan  media semai berupa tanah kering dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1. Benih berkecambah setelah umur 7 – 10 hari setelah semai.

C. PENANAMAN
Bibit yang dipilih adalah yang sehat dan telah berumur 20 - 25 hari setelah semai. Sebelumnya bibit disiram agar tanah tetap utuh saat pindah tanam. Waktu penanaman sore hari dengan cara melepaskan bibit dari polybag dan usahakan tanahnya tetap utuh.  Jarak tanam dalam barisan 50 cm dan antar barisan 70 – 80 cm.

D. PEMELIHARAAN
1.  Pemupukan
Pupuk susulan diberikan dengan sistem kocor, dengan dosis 1 ember (13 L) air untuk 50 tanaman ditunjukkan pada tabel berikut :

7 HST = NPK 16:16:16 205 G/TAN; KNO3 MERAH 85 G/TAN;
14 HST = NPK 16:16:16 230 G/TAN; KNO3 MERAH 90 G/TAN;
21 HST = NPK 16:16:16 250 G/TAN; KNO3 MERAH 100 G/TAN;
28 HST = NPK 16:16:16 275 G/TAN; KNO3 MERAH 105 G/TAN;
35 HST = NPK 16:16:16 300 G/TAN; KNO3 MERAH 115 G/TAN;  
42 HST = NPK 16:16:16 200 G/TAN; KNO3 PUTIH 200 G/TAN;
49 HST = NPK 16:16:16 215 G/TAN; KNO3 PUTIH 215 G/TAN;
Larutan pupuk disiramkan 1 gelas (± 240 ml) pada tiap tanaman.

2. Perempelan
Perempelan dilakukan dengan menghilangkan tunas bakal percabangan yang keluar di ketiak daun (tunas/cabang air) di bawah cabang “V” dengan menggunakan tangan yang bersih. Sisakan 2 – 3 tunas/cabang secara selektif yang paling sehat. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari ketika batang atau tunas tersebut masih mudah dipatahkan.
   
3. Perlakuan tanaman
Pemasangan ajir atau turus dilakukan setelah tanaman selesai ditanam di bedengan. Tinggi ajir atau turus yang digunakan adalah 1,5 - 2 meter, bagian bawah yang dimasukkan ke dalam tanah 25 cm. Ajir atau turus dipasang miring ke luar (model “V”).  Pemasangan ajir dilakukan di setiap tanaman dengan jarak sekitar 10 cm dari batang tanaman. Setelah ajir atau turus dipasang, tanaman harus segera diikatkan di ajir atau turus tersebut dengan menggunakan tali rafia. Cara mengikatnya menggunakan simpul yang berbentuk angka delapan (“8”). Pengikatan tanaman dilakukan pertama kali di batang. Namun, setelah tanaman mengalami penambahan tinggi, pengikatan dilakukan di percabangan pertama.  


E. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Pengendalian hama dan penyakit yang diterapkan bersifat preventif dengan menyemprotkan pestisida secara teratur. Penyemprotan mulai dilakukan pada umur tanaman ± 1 MST menggunakan pestisida sesuai sasaran hama/penyakit & konsentrasi/dosis anjuran dengan jarak waktu semprot (interval penyemprotan) 4 hari. Penyemprotan dilakukan lebih intensif lagi jika terjadi hujan.

F. PEMANENAN
Terong dipanen saat buah masih muda, mulai dapat dipanen pada umur 50 – 55 hari setelah tanam. Kriteria buah yang baik adalah dagingnya belum keras dan warna buah mengkilat. Waktu yang paling tepat untuk melakukan pemanenan adalah pagi atau sore hari sehingga buah tetap segar. Pemanenan dapat dilakukan seminggu dua kali. Potensi hasil per tanaman mencapai 21 buah atau 55 – 65 ton/ha.

1. PENYAKIT MOSAIK (Cucumber Mosaic Virus)        
Gejala serangan CMV cukup beragam, umumnya tanaman menjadi kerdil dan bunga gugur. Terdapat motif mosaic atau adanya gradasi warna hijau muda kekuningan dengan hijau tua. Pengendalian dengan melakukan sanitasi terhadap gulma, memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi,mencuci tangan setelah memegang tanaman yang terinfeksi,melakukan pengendalian terhadap hama vektor yaitu Aphid. Penanganan kimia dengan abamectin, deltametrin, alfa sipermetrin.

2. VIRUS KUNING (Tomato Yellow Leaf Curl Khancanaburi Virus)   
Gejala daun menguning, keriting, ukuran daun lebih kecil. Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil dan ruas-ruas pada percabangan memendek. Seringkali jika menyerang pada fase generatif (pembungaan) kebanyakan bunga menjadi gugur. Pengendalian: Dengan monitoring perkembangan kutu kebul dari awal penanaman dan melakukan pengendalian kutu kebul, membuang dan memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi, melakukan sanitasi terhadap gulma yang merupakan inang alternatif dari kutu kebul. Pengendalian kutu kebul sebagai vektornya dengan pengaplikasian insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, metidation, dan diafenturion.

3. LAYU BAKTERI (Bacterial Wilt)
Gejala tanaman mendadak layu tanpa diawali gejala kekuningan pada daun. Batang utama tampak hijau dan tegak, sedangkan tangkai daun dan helaian daun tampak luruh jika pada siang hari. Namun, pada saat sore hari tanaman tampak segar kembali. Gejala lainnya bagian dalam dari batang (bagian pembuluh angkut) berwarna cokelat. Jika pangkal batang dipotong lalu dicelupakan pada air jernih maka akan muncul aliran bakteri menyerupai asap rokok. Pengendalian : Melakukan rotasi tanam dengan tanaman non-inang. Pencegahan dengan aplikasi belerang pada saat persiapan lahan. Pemupukan berimbang agar tanaman tidak terlalu sukulen. Mencabut tanaman yang sudah terinfeksi. Aplikasi bakterisida berbahan aktif streptomycine, asam oksolinik, dan dazomet.

4. BUSUK BATANG (Phomopsis Blight)
Gejala pembusukan pada bagian buah dan batang. Ciri khusus yaitu terdapat bintik-bintik hitam pada bagian terserang dangan pola konsentris (melingkar). Jika yang terserang adalah bagian pangkal batang, maka tanaman akan layu. Pengendalian: Menjaga kelembaban di sekitar tanaman agar tidak berlebihan, membuang tanaman yang terinfeksi. Aplikasi fungisida tebukonazol, mankozeb, difekonazol, heksakonazol.

Produk Kami