PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

LOKANANTA

LOKANANTA
Nomor SK Kementan: 059/Kpts/SR.120/D.2.7/6/2017
Rekomendasi Dataran: Rendah
Ketahanan Penyakit*: Layu Fusarium (med), Ant
Umur Panen (HST)*: 65-70
Bobot per Buah (g)*: 9-12 gr
Potensi Hasil (ton/ha)*: 19-26
PVT:

*) Ketahanan penyakit, umur panen, bobot dan potensi hasil tergantung pada lingkungan dan perlakuan budidayanya.

BUDIDAYA BAWANG MERAH

3M Manfaat Menggunakan True Shallot Seed (TSS).

A. MUDAH
Teknik budidaya
Transportasi
Sehat (tidak membawa penyakit tular-benih atau non seed-borne)

B. MURAH
1 (satu) hektar membutuhkan :
Umbi-bibit 1 - 1,5 ton @ Rp 30.000/kg; sedangkan
Benih (TSS) cukup 5 kg @ Rp 3 juta
Hemat pemupukan hingga 30%

C. MENGUNTUNGKAN
Potensi panen menggunakan umbi 12 - 17 ton/hektar
Potensi panen menggunakan TSS 17 - 25 ton/hektar

PERSIAPAN LAHAN
Membajak lahan dengan kedalaman : 30 - 40 cm. Jika pH tanah kurang dari 6 sebaiknya melakukan pemupukan Kalsium dengan cara menaburkan kapur-pertanian sebanyak 5 ton per hektar lalu tanah digaru/rotari, Selanjutnya membuat bedengan dengan ukuran lebar 150-175 cm dan panjang menyesuaikan dengan kondisi lahan (maksimal 20 meter), tinggi bedengan minimal 20 cm dengan jarak antar bedengan (parit) 50 - 60 cm. Bedengan yang terbentuk digunakan untuk : bedengan-semai (pembibitan) dan bedengan penanaman (transplanting). Bedengan penanaman sebaiknya dipanaskan sinar matahari selama minimal 1 (satu) bulan atau siap ditanami sesuai umur bibit (35 - 45 Hari Setelah Semai (HSS)).

PERSEMAIAN
Pada kondisi tanah yang bertekstur liat sebaiknya melakukan pembakaran sekam-padi di atas bedeng semai, caranya sekam ditumpuk merata setebal 15 - 20 cm kemudian sekam dibakar lalu hasil pembakaran diaduk tanah hingga merata (mengupayakan tanah menjadi remah).  Manfaat pembakaran sekam diantaranya meminimalisir pertumbuhan gulma dan penyakit terbawa tanah (soil born).
Beberapa cara penyemaian/ pembibitan bawang merah menggunakan biji di antaranya :
A. Menaburkan benih pada bedengan semai, caranya: membasahi bedengan lalu membuat alur-alur (larikan) dengan jarak 5 - 10 cm, sebaiknya benih dicampur dengan fungisida yang berwarna putih untuk memudahkan dan meratakan penaburan; selanjutnya benih  ditutup tanah tipis-tipis lalu menghamparkan karung atau mulsa plastik (benih bernas akan muncul tunas pada 5 - 7 HSS), kebutuhan benih per hektar maksimal 5 kg atau 7-10 gram per meter persegi.
Perawatan : mengupayakan ketersedian air melalui penyiraman yang berkala sesuai kondisi lahan pembibitan, dan jika memberikan pupuk an-organic (NPK 16-16-16) sebaiknya dalam bentuk larutan (1 gram/liter) saat bibit berumur 21 HSS; hendaknya pembibitan diberi naungan atau sungkup plastik yang bisa dibuka-tutup.
B. Membibitkan  pada : kotak-kotak penyemaian, polybag, tray, atau soil block, yang  dapat dilakukan di pekarangan rumah.

PENANAMAN
Bawang merah menghendaki tekstur tanah (bedengan) yang remah, cara menanam :
- Bibit siap tanam berumur 40 - 45 HSS, telah terbentuk umbi mini seukuran pentol korek api, perakaran baik, dan panjang daun 15 - 20 cm.
- Basahi permukaan bedengan.
- Membuat jarak tanam dengan ukuran : 10 cm x 10 cm atau          10 cm x 8 cm (tanam 1 bibit); pada lahan yang menggunakan mulsa plastik hitam perak 20 cm x 15 cm atau 20 cm x 20 cm (tanam 2 bibit).
- Menanam bibit dengan kedalaman 1 - 1,5 cm.
- Penyemprotan herbisida pra-tumbuh dapat dilakukan 7 hari sebelum penanaman.

PEMELIHARAAN
Pemeliharaan atau perawatan tanaman bawang merah menggunakan biji/bibit (generative) sama saja dengan penanaman bawang merah menggunakan umbi/klon (vegetatif), di antaranya :

A. Penyiraman/pengairan, mengupayakan kondisi bedengan tetap lembab hingga tanaman berumur 55 hari setelah tanam (HST) baik secara penggenangan/leb, menyiram menggunakan alat/gembor, juga penggunaan sprinkler.
B. Eradikasi/penyiangan gulma, yaitu mencabut rerumputan pada bedengan.
C. Pemupukan bertujuan untuk memberikan nutrisi/hara yang dibutuhkan selama pertumbuhan tanaman hingga pemanenan, yaitu :

NO   WAKTU                        JENIS PUPUK     DOSIS                 CARA
1.      Dasar                           ZA : SP-36 : Kcl   100 : 200 : 150   Ditebarkan dan diaduk saat pencacahan bedengan (1 minggu sebelum tanam)
2.     Susulan-1 (15 HST)   NPK 16-16-16     100 kg                 Ditebarkan di antara tanaman kemudian disiram
3.     Susulan-2 (30 HST)   NPK 16-16-16      150 kg                Ditebarkan di antara tanaman kemudian disiram
*Dosis tergantung dengan kesuburan tanah dan penampakan tanaman (penotif).

D. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), cara yang     dilakukan  :
Secara kultur teknis : pemupukan berimbang, penggunaan varitas yang tahan OPT, penggunaan musuh alami : parasitoid, predator, dan pathogen serangga.
Secara mekanik : memotong daun yang sakit atau terdapat kelompok telur-ulat penggorok daun (Spodoptera exigua), penggunaan jaring kelambu, perangkap lampu, perangkap kertas kuning, serta sex feromone.
Penggunaan bio-pestisida, yaitu menyemprotkan fermentasi dedaunan (daun mimba, daun sirsak, lengkuas, bawang putih dicincang lalu diblender yang ditambahkan air, kemudian dicampurkan larutan minyak atsiri daun cengkeh); dosis  200 - 300 cc per tangki-sprayer 16 liter dengan interval 2x seminggu.
Penggunaan pestisida selektif harus bijaksana yaitu berdasarkan ambang pengendalian.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
1. REBAH KECAMBAH (Pythium sp.)
Gejala : Pembusukan pangkal batang atau hipokotil sehingga menyebabkan semaian bibit menjadi rebah. Mengeringnya ujung daun. Penyebab adalah : jamur Pythium sp. Faktor Pembawa : Tersebar melalui tular tanah (soil borne),  dan bertahan di dalam tanah. Faktor Lingkungan Yang Mendukung : Lingkungan yang lembab, pencahayaan kurang, sirkulasi udara buruk, suhu tinggi dan drainase media tanam buruk.

Teknik Pengendalian : Hindari pemberian pupuk dengan kandungan nitrogen yang tinggi dan irigasi berlebih karena dapat mengakibatkan pertumbuhan bibit menjadi sukulen dan mempermudah serangan damping-off. Penanaman benih ke dalam media tidak terlalu dalam dan padat. Fungisida dengan bahan aktif: Metalaksil, Thiram, Benomyl atau Propamokarb. Penyiraman sebelum jam 3 sore.

2. ANTHRACNOSE  (Colletotrichum gloeosporoides)
Gejala : Mengeringnya ujung daun, menguningnya daun muda (Klorosis), leher batang memanjang dan melintir, pertumbuhan daun melintir (Twister)
Timbul bercak oval pada daun/umbi dalam bentuk lingkaran concentric, bintik-bintik oranye atau hitam. Penyebab adalah : jamur Colletotrichum gloeosporioides. Faktor Pembawa :  Tersebar melalui udara (air borne), bertahan di dalam tanah. Faktor Lingkungan Yang Mendukung : Kelembaban tinggi, hujan yang cukup, disemua elevasi. Teknik Pengendalian : Sanitasi, monitoring, pembuangan tanaman dan umbi terinfeksi secara mekanik. Aplikasi fungisida yang berbahan aktif mankozeb, tembaga sulphat, tembaga oksiklorida, karbendezim, klorotalonil sesuai dosis anjuran.

3. BERCAK BOTRYTIS (Botrytis sp)
Penyebab Botrytis sp. Deskripsi Umum : Gejala awal pada daun yang terinfeksi muncul bercak putih berukuran kecil. Umbi yang terinfeksi akan menunjukkan gejala bercak kecokelatan pada leher umbi, namun hanya lapisan terluar dari umbi dan bagian dalam umbi tidak terinfeksi. Perkembangan Penyakit : Flek atau bercak yang berkembang pada leher umbi akan muncul pada kondisi kelembaban udara yang berlebih dengan suhu rata-rata 21°C. Teknik Pengendalian: Jamur ini dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman dengan membentuk sclerotia, maka dari itu dengan memusnahkan sisa-sisa tanaman terinfeksi dapat mengurangi sumber inokulum jamur ini. Aplikasi fungisida preventif-kontak berbahan aktif kloratalonil, folpet, mankozeb, propineb, kaptan dan ziram, fungisida preventif-sistemik asibenzolar S-metyl dan fungisida kuratif azoxystrobin, famoksadon.

4. BERCAK UNGU (Alternaria porii)
Penyebab Alternaria porii. Deskripsi Umum : Daun-daun tua cenderung lebih rentan dibandingkan daun-daun yang masih muda. Gejala awal berupa bercak kecil dengan bagian tengah berwarna agak putih. Bercak berkembang dari mulai berwarna cokelat lama-kelamaan menjadi keunguan serta bagian sekitar bercak berwarna kekuningan. Semakin lama pola konsentris (melingkar) mulai muncul sebagai akibat jamur yang terus menghasilkan spora. Jika perkembangan jamurnya dibiarkan, maka bercak akan mengelilingi daun terserang hingga daun akan patah. Selanjutnya, umbi dapat terserang melalui pangkal daun sehingga jamur dapat menginvasi umbi, biasanya bagian terserang berwarna kuning cerah dan lama kelamaan akan berwarna merah gelap. Perkembangan Penyakit : Selama musim dingin, jamur berupa miselia dan spora akan banyak terbentuk ketika kondisi lembab pada saat malam hari dan daun menjadi basah selama 12 jam lebih dalam sehari. Ketika embun hilang, spora menjadi bersifat air-borne. Biasanya membutuhkan waktu 1 - 4 hari untuk perkembangan awal penyakit setelah infeksi. Teknik Pengendalian : Lebih disarankan melakukan pengairan pada permukaan tanah dibandingkan pengairan menggunakan teknik sprinkle (dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kebasahan daun). Pengaturan jarak tanam tidak terlalu rapat. Merotasi tanam dengan tanaman selain bawang. Aplikasi fungisida preventif-kontak berbahan aktif kloratalonil, folpet, mankozeb, propineb, kaptan dan ziram, fungisida preventif-sistemik asibenzolar S-metyl dan fungisida kuratif azoxystrobin, famoksadon.

5. FUSARIUM  (Fusarium oxysporum f. sp. Cepae)
Gejala : mengering dan menguningnya ujung daun, tanaman menguning dan layu, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil, umbi menjadi kecoklatan dan berair, akar membusuk dan tumbuh jamur keputih-putihan. Penyebab adalah jamur Fusarium oxysporum f. sp. Cepae. Faktor Pembawa :  tersebar secara tular tanah (soil borne). Faktor Lingkungan Yang Mendukung : temperatur hangat, curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, disemua elevasi. Teknik Pengendalian : Sanitasi, monitoring, pembuangan tanaman dan umbi terinfeksi secara mekanik. Aplikasi fungisida berbahan aktif dimetomorf, folpet, kloratalonil, kaptan, ziram, mankozeb, propineb, asibenzolar s-metyl, 50% famoxadonet cymoxanil (wg), 23% azoxystrobin (sc) sesuai dosis anjuran.

6. ULAT  (Spodoptera exigua)
Gejala : rusaknya batang dan daun, bagian ujung daun terpotong, jaringan bagian dalam daun tampak menerawang tembus cahaya. Pengendalian : penggenangan lahan sebelum ditanami, sanitasi dengan membersihan lahan dari pertumbuhan gulma, pengendalian mekanis dengan cara memetik daun, pengendalian secara kimiawi : menggunakan insektisida yang berbahan aktif Klorfenapir (Rampage), Profenofos (Curacron), Spinosad (Tracer). Pengendalian secara biologis : menggunakan insektisida yang memiliki bahan aktif Bacillus thuringensis, Sebaiknya pengendalian secara biologis dan kimiawi dilakukan. Pada malam hari ketika ulat mulai keluar untuk memakan daun.

PEMANENAN
Keuntungan menggunakan TSS adalah potensi hasil 30% lebih tinggi dibandingkan menggunakan umbi (vegetative), daun lebih tebal dan vigor sehingga waktu panen bisa diatur.
A. Ciri-ciri bawang merah yang siap dipanen : umur berkisar 60 - 70 hari setelah tanam, leher batang 60% telah lunak, tanaman rebah, serta 75% daun menguning.
B. Pemanenan dengan cara dicabut kemudian diikat pada batangnya agar memudahkan penanganan saat penjemuran umbi (1- 2 minggu) di bawah sinar matahari langsung.
C. Penyimpanan umbi yang telah kering dengan cara menggantungkan ikatan bawang merah  pada rak-rak di gudang penyimpanan yang mempunyai suhu 25 - 30 derajat Celcius dan kelembaban nisbi (RH : 60 - 80%).

 

1. FUSARIUM  (Fusarium oxysporum f. sp. Cepae)        
Gejala: mengering dan menguningnya ujung daun, tanaman menguning dan layu, pertumbuhan tanaman terhambat dan kerdil, umbi menjadi kecoklatan dan berair, Akar membusuk dan tumbuh jamur keputih-putihan. Penyebab adalah jamur Fusarium oxysporum f. sp. Cepae. Faktor Pembawa :  tersebar secara tular tanah (soil borne). Faktor Lingkungan Yang Mendukung : temperatur hangat, curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, disemua elevasi. Teknik Pengendalian : Sanitasi, monitoring, pembuangan tanaman dan umbi terinfeksi secara mekanik. Aplikasi fungisida berbahan aktif dimetomorf, folpet, kloratalonil, kaptan, ziram, mankozeb, propineb, asibenzolar s-metyl, 50% famoxadonet cymoxanil (wg), 23% azoxystrobin (sc) sesuai dosis anjuran.

2. ANTHRACNOSE  (Colletotrichum gloeosporoides)        
Gejala: Mengeringnya ujung daun, menguningnya daun muda (Klorosis), leher batang memanjang dan melintir, pertumbuhan daun melintir (Twister)
Timbul bercak oval pada daun/umbi dalam bentuk lingkaran concentric, bintik-bintik oranye atau hitam. Penyebab adalah : jamur Colletotrichum gloeosporioides. Faktor Pembawa :  Tersebar melalui udara (air borne), bertahan di dalam tanah. Faktor Lingkungan yang Mendukung : Kelembaban tinggi, hujan yang cukup, di semua elevasi. Teknik Pengendalian : Sanitasi, monitoring, pembuangan tanaman dan umbi terinfeksi secara mekanik. Aplikasi fungisida yang berbahan aktif mankozeb, tembaga sulphat, tembaga oksiklorida, karbendezim, klorotalonil sesuai dosis anjuran.

Produk Terkait

Produk Kami