PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

ANGGUN TAVI F1

ANGGUN TAVI F1
Nomor SK Kementan: 020/Kpts/SR.120/D.2.7/2/2016
Rekomendasi Dataran: Rendah - Menengah
Ketahanan Penyakit*: Gemini Virus
Umur Panen (HST)*: 34 HST
Bobot per Buah (g)*: 220 g
Potensi Hasil (ton/ha)*: 40 ton/ha
PVT:

*) Ketahanan penyakit, umur panen, bobot dan potensi hasil tergantung pada lingkungan dan perlakuan budidayanya.

A. PERSIAPAN LAHAN
Lahan yang efektif adalah lahan bekas penanaman cabai atau tomat. Tanah ini tidak perlu lagi dilakukan pengolahan secara maksimal. Pengolahan lahan dilakukan tiga sampai empat minggu sebelum tanam yaitu dengan membajak, membalikkan atau mencangkul tanah. Tujuan dari pengolahan lahan yaitu untuk memperbaiki struktur tanah, memperbaiki aerasi tanah, mendekomposisikan gulma, dan mempermudah membentuk bedengan. Satu minggu kemudian dilakukan pembuatan bedengan sementara, yaitu dengan membentuk bedengan berukuran lebar 120 cm, tinggi bedengan 40 cm, lebar parit antar bedengan 50 cm. Di atas bedengan disebar pupuk dasar berupa pupuk kandang 5 kg/m2,  SP-36 7.5 g/tanaman, KCL 5 g/tanaman, dan ZA 26 g/tanaman, Dolomit 17.5 g/tanaman. Pupuk diaduk dengan tanah secara merata dan bedengan dirapihkan, kemudian bedengan ditutup dengan mulsa plastik. Dua hari sebelum tanam dibuat lubang tanam dengan jarak 50 cm x 100 cm.

B. PERSEMAIAAN
Benih oyong perlu diberi perlakuan terlebih dahulu dengan memotong/memecah benih dengan alat pemotong kuku.
Benih dikecambahkan pada kertas tisu atau koran, atau kain basah selama 2 hari atau sampai keluar bakal akarnya.  Selanjutnya benih bisa dimasukan ke lubang tanam secara langsung atau disemai dulu dalam polybag.  Media persemain terdiri dari tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1, bibit siap dipindah tanamkan pada umur 7-10 hari setelah semai.

C. PENANAMAN
Penanaman dilakukan saat bibit berumur 7-10 hari setelah semai.  
Penanaman lebih baik dilakukan sore hari.

D. PEMELIHARAAN
Pengairan
Pengairan dilakukan apabila kondisi lahan kering atau disiram
2 kali seminggu dengan cara dikocor atau dileb.

Pemasangan lanjaran
Pada sistem bedengan, lanjaran dipasang pada tiap tanaman dengan jarak 50 cm, sedangkan pada sistem para-para lanjaran dipasang pada tiap tanaman.  Tinggi lanjaran 2 m dengan lebar 4 cm.

Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan 2 minggu setelah tanam menggunakan pupuk Urea, SP-36 dan KCL dengan dosis 10 – 20 g per tanaman.  Pemupukan selanjutnya dilakukan setiap 20 hari dengan dosis yang sama.

1. NAMAMARAKO (NMK) Virus       
Gejala daun menguning, keriting, ukuran daun lebih kecil. Pada umumnya tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil dan ruas-ruas pada percabangan memendek. Seringkali jika menyerang pada fase generatif (pembungaan) kebanyakan bunga menjadi gugur. Pengendalian: Monitoring perkembangan kutu kebul dari awal penanaman dan melakukan pengendalian kutu kebul, membuang dan memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi. Melakukan sanitasi terhadap gulma yang merupakan inang alternatif dari kutu kebul. Aplikasi insektisida berbahan aktif Abamectin, Tiametoksam, Metidation, dan Diafenturion.

2. LAYU FUSARIUM (Fusarium wilt)            
Gejalanya berupa sebagian tanaman menguning atau menguning sebagian helaian daun. Tanaman layu, kemudian kering dan mati. Apabila batang dibelah melintang, terlihat jaringan pembuluh berwarna kecokelatan. Pengendalian hindari pemupukan nitrogen berlebihan agar tanaman tidak terlalu sukulen melakukan perbaikan drainase agar air tidak tergenang di lahan, memusnahkan tanaman yang telah terinfeksi dan pengaplikasian fungisida Benomil.

3. BUSUK BATANG BERLENDIR (Gummy stem blight)
Gejala yang muncul pada daun berupa bercak tidak beraturan tapi terdapat lingkaran konsentris berwarna abu-abu kecokelatan. Pada batang yang terinfeksi akan mengeluarkan cairan berupa getah cokelat kehitaman yang mengeras. Pengendalian dengan melakukan sanitasi terhadap gulma, melakukan pemangkasan untuk mengurangi kelembaban, melakukan perbaikan drainase agar air tidak tergenang di lahan, memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi. Pengaplikasian fungisida Heksakonazol, Tridemorf, Mankozeb, Tebukonazol, Difenokonazol, Metil Tiofanat.

4. EMBUN BULU (Downy mildew)
Gejala pada tanaman timun berupa bercak cokelat kehitaman tidak beraturan. Pengendalian dengan melakukan sanitasi lahan terhadap gulma, melakukan perbaikan drainase lahan agar tidak terdapat air menggenang di lahan, melakukan rotasi tanaman dengan tanaman selain timun-timunan, pengaplikasian fungisida Heksakonazol, Simoksanil, Propineb, Mankozeb.

Produk Kami