PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

PILAR F1

PILAR F1
Nomor SK Kementan: 2289Kpts/SR.120/5/2011
Rekomendasi Dataran: Menengah - Tinggi
Ketahanan Penyakit*: Bw, Phythopthora
Umur Panen (HST)*: 100 - 120
Bobot per Buah (g)*: 19 - 20
Potensi Hasil (ton/ha)*: 18 - 22
PVT:
PILAR F1 PILAR F1 PILAR F1 PILAR F1

*) Ketahanan penyakit, umur panen, bobot dan potensi hasil tergantung pada lingkungan dan perlakuan budidayanya.

PILAR adalah cabai besar unggulan yang direkomendasikan untuk ditanam di dataran menengah sampai tinggi.  Tipe pertumbuhan tegak, potensi hasil antara 1-1.5 kg per tanaman. Dalam satu kilogram cabai, terdapat 50-60 buah dengan panjang 18cm dan diameter 1.8- 2 cm. Umur Panen PILAR bervariasi menurut dataran tempat tanam, rerata antara 105-120 hari setelah tanam. PILAR mempunyai ketahanan terhadap layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) dan penyakit busuk batang (Phytophthora capsici)
 
Tips Menanam:
Hindari pupuk N tunggal. perbanyak pupuk dengan unsur P dan K pada fase generatif

A. PERSIAPAN LAHAN
Tanah di traktor kemudian dibiarkan selama 1 minggu.
Tanah di balik menggunakan rotary dan diberi campuran pupuk kandang 30 - 40 ton/ ha dan kapur pertanian sesuai dengan kebutuhan, dibiarkan selama 1 minggu.
Tanah dibalik kembali dan dibentuk bedengan, pupuk dasar siap untuk ditaburkan di lubang tanam secara merata pada bedengan, kemudian tutup dengan mulsa dan dibiarkan selama 1 minggu.
Setelah benih siap, mulsa diberi lubang dengan jarak 50x40 untuk penanaman single row atau 60x50 untuk double row  zig - zag.

B. PERSEMAIAAN
Benih disemai dalam polybag selama 18-28 hari.
Media semai yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:1, 1 bagian tanah,             1 bagian kompos/pupuk kandang.
Benih yang sudah diberi perlakuan coating sebaiknya tidak diperam.

C. PENANAMAN
Benih yang sudah mempunyai daun 5 helai kemudian ditanam, satu lubang tanam satu tanaman.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, agar tanaman muda tidak mati karena kepanasan.
Pada saat penanaman juga ditancapkan turus atau ajir, agar tidak merusak perakaran tanaman apabila ditancapkan saat tanaman sudah lebih besar.
Tanaman disiram setelah penanaman.

D. PEMELIHARAAN
Penyiraman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pemupukan susulan, dilakukan setiap 2 minggu, dengan cara menaburkan pupuk NPK disekitar tanaman, kemudian disiram.
Pupuk Dasar: Pupuk Kandang & Borate;
14 HST = NPK (25-7-7);
28 HST = NPK (25-7-7);
42 HST = NPK (25-7-7); NPK (16-16-16); Calcium; KCL;
56 HST = NPK (16-16-16); Calcium; KCL;
70 HST = Calcium; KP;
84 HST = KP;
100 HST = KP;

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila sudah dianggap merugikan secara ekonomi.
Tanaman yang sudah tinggi, diikat dengan menggunakan tali pada turus, agar tidak roboh.

E. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit merupakan tindakan perlindungan tanaman dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan. Akibat serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produksi atau bahkan dapat menggagalkan panen.Pencegahan dilakukan dengan membersihkan sekitar tanaman dari gulma yang dapat mengganggu tanaman dan menjadi vektor bagi penyakit dan dengan membuat sistem irigasi dan drainase yang teratur.

F. PEMANENAN
Panen dilakukan apabila buah sudah masak dan berwarna merah.
Pemanenan dilakukan dengan memetik buah secara langsung.

1. VIRUS GEMINI
Gejala tanaman yang terinfeksi Begomovirus atau virus kuning sangat bervariasi diantaranya daun menguning, keriting, ukuran daun lebih kecil. Pada umumnya tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil dan ruas-ruas pada percabangan memendek. Seringkali jika menyerang pada fase generatif (pembungaan) kebanyakan bunga menjadi gugur. Teknik penanganan pengendalian kutu kebul sebagai vektornya dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Abamectin, Tiametoksam, Metidation, dan Diafentiuron.

2. PATEK/ANTRAK (Anthracnose)  
Penyakit ini disebabkan jamur Colletrotichum sp. Gejalanya, pada buah terdapat bercak cekung, busuk basah dan kering, berwarna hitam atau oranye. Pengendalian dengan membuang buah terinfeksi, menjaga sanitasi lingkungan, aplikasi fungisida berbahan aktif Kloratalonil, Karbendazim, Propineb, Heksakonazol, Asilbenzolars metyl, Flusilazol, dan Penarimol.

3. LAYU BAKTERI (Bacterial Wilt)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Gejalanya adalah tanaman layu namun masih tampak hijau. Pengendaliannya dengan cara membuang tanaman terinfeksi, lalu dikocor menggunakan bakterisida berbahan aktif Dazomet, Streptomycine sulfat, Asam Oksolinik, Kasugamycine Hidroklorida dan Oksitetrasiklin.

4. HAWAR DAUN/LODOH (Phythopthora)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Gejalanya, terjadi penyempitan pada batang (seperti tercekik) dan berwarna hitam. Pengendalian dengan membuang tanaman terinfeksi, menjaga sanitasi lingkungan, drainase yang baik, jarak tanam lebih lebar, aplikasi fungisida berbahan aktif Dimetomorf, Folpet, dan Kloratalonil.

Produk Kami