PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

KASTILO F1

KASTILO F1
Nomor SK Kementan: 3264/Kpts/SR.120/10/2010
Rekomendasi Dataran: Menengah - Tinggi
Ketahanan Penyakit*: Bw, Phythopthora, Toleran FEY
Umur Panen (HST)*: 100-115
Bobot per Buah (g)*: 3 - 4
Potensi Hasil (ton/ha)*: 18 - 20
PVT: -
KASTILO F1 KASTILO F1 KASTILO F1 KASTILO F1

*) Ketahanan penyakit, umur panen, bobot dan potensi hasil tergantung pada lingkungan dan perlakuan budidayanya.

KASTILO F1 merupakan cabai keriting yang disarankan untuk ditanam di dataran menengah. potensi hasil mencapai 1-1,5 kg per tanaman. Dalam satu kilogram cabai, terdapat 180-200 buah cabai dengan ukuran rerata 15-17 cm dengan diameter 0,7-0,8 cm. Bentuk tanaman erect, vigor dan berbunga terus menerus. Umur Panen  bervariasi menurut dataran tempat tanam, rerata antara 85-95 hari setelah tanam. KASTILO mempunyai ketahanan terhadap layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) dan tahan terhadap busuk batang (Phythopthora capsici)

Tips Menanam:

pemupukan berkala untuk menyeragamkan ukuran buah bawah dan buah atas. Penggunaan pupuk N tunggal dihindari agar tidak terjadi kerontokan buah

A. PERSIAPAN LAHAN
Tanah di traktor kemudian dibiarkan selama 1 minggu
Tanah di balik menggunakan rotary dan diberi campuran pupuk kandang 30 - 40 ton/ha dan kapur pertanian sesuai dengan kebutuhan, dibiarkan selama 1 minggu.
Tanah dibalik kembali dan dibentuk bedengan, pupuk dasar siap untuk ditaburkan di lubang tanam atau merata pada bedengan, kemudian tutup dengan mulsa dan dibiarkan selama 1 minggu.
Setelah benih siap, mulsa diberi lubang dengan jarak 50x40 cm untuk penanaman single row atau 60x50 cm untuk double row   zig - zag.

B. PERSEMAIAAN
Benih disemai dalam polybag selama 18-28 hari.
Media semai yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:1, 1 bagian tanah,         1 bagian kompos/pupuk kandang.
Benih yang sudah diberi perlakuan coating sebaiknya tidak diperam.

C. PENANAMAN
Benih yang sudah mempunyai daun 5 helai kemudian ditanam, satu lubang tanam satu tanaman.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, agar tanaman muda tidak mati karena kepanasan.
Pada saat penanaman juga ditancapkan turus atau ajir, agar tidak merusak perakaran tanaman apabila ditancapkan saat tanaman sudah lebih besar.
Tanaman disiram setelah penanaman.

D. PEMELIHARAAN
Penyiraman dilakukan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pemupukan susulan, dilakukan setiap 2 minggu, dengan cara menaburkan pupuk NPK disekitar tanaman, kemudian disiram.
Pupuk Dasar: Pupuk Kandang & Borate;
14 HST = NPK (25-7-7);
28 HST = NPK (25-7-7);
42 HST = NPK (25-7-7); NPK (16-16-16); Calcium; KCL;
56 HST = NPK (16-16-16); Calcium; KCL;
70 HST = Calcium; KP;
84 HST = KP;
100 HST = KP;

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila sudah dianggap merugikan secara ekonomi.
Tanaman yang sudah tinggi, diikat dengan menggunakan tali pada turus, agar tidak roboh.

E. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit merupakan tindakan perlindungan tanaman dari ancaman kerusakan yang ditimbulkan. Akibat serangan hama dan penyakit dapat menurunkan produksi atau bahkan dapat menggagalkan panen.Pencegahan dilakukan dengan membersihkan sekitar tanaman dari gulma yang dapat mengganggu tanaman dan menjadi vektor bagi penyakit dan dengan membuat sistem irigasi dan drainase yang teratur.

F. PEMANENAN
Panen dilakukan apabila buah sudah masak dan berwarna merah.
Pemanenan  dilakukan dengan memetik buah secara langsung.

1. VIRUS GEMINI
Gejala tanaman yang terinfeksi Begomovirus atau virus kuning sangat bervariasi diantaranya daun menguning, keriting, ukuran daun lebih kecil. Pada umumnya tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil dan ruas-ruas pada percabangan memendek. Seringkali jika menyerang pada fase generatif (pembungaan) kebanyakan bunga menjadi gugur. Teknik penanganan pengendalian kutu kebul sebagai vektornya dengan aplikasi insektisida berbahan aktif Abamectin, Tiametoksam, Metidation, dan Diafentiuron.

2. PATEK/ANTRAK (Anthracnose)  
Penyakit ini disebabkan jamur Colletrotichum sp. Gejalanya, pada buah terdapat bercak cekung, busuk basah dan kering, berwarna hitam atau oranye. Pengendalian dengan membuang buah terinfeksi, menjaga sanitasi lingkungan, aplikasi fungisida berbahan aktif Kloratalonil, Karbendazim, Propineb, Heksakonazol, Asilbenzolars metyl, Flusilazol, dan Penarimol.

3. LAYU BAKTERI (Bacterial Wilt)
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Gejalanya adalah tanaman layu namun masih tampak hijau. Pengendaliannya dengan cara membuang tanaman terinfeksi, lalu dikocor menggunakan bakterisida berbahan aktif Dazomet, Streptomycine sulfat, Asam Oksolinik, Kasugamycine Hidroklorida dan Oksitetrasiklin.

4. HAWAR DAUN/LODOH (Phythopthora)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Gejalanya, terjadi penyempitan pada batang (seperti tercekik) dan berwarna hitam. Pengendalian dengan membuang tanaman terinfeksi, menjaga sanitasi lingkungan, drainase yang baik, jarak tanam lebih lebar, aplikasi fungisida berbahan aktif Dimetomorf, Folpet, dan Kloratalonil.

Produk Kami