PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

Petani Bawang Merah di Aceh Berhasil Menghasilkan Panen Berlimpah

Jumat, 12 Mei 2017 00:00

Banda Aceh, 4 Mei 2017 – Petani bawang merah di Provinsi Aceh berhasil mengembangkan budidaya bawang merah dengan produktivitas rata-rata mencapai sekitar 15 - 17 ton per hektar. Pencapaian ini meningkat dua kali lipat atau 100 persen lebih dari rata-rata produktivitas petani bawang merah Aceh selama ini yang berada di kisaran 7,3 ton per hektar. Keberhasilan tersebut bahkan melebihi produktivitas bawang merah nasional yang rata-rata 8-12 ton per hektar.

Salah satu petani Aceh yang berhasil membudidayakan bawang merah tersebut adalah Wildan. Petani yang berasal dari provinsi paling barat Indonesia ini berhasil setelah berlatih menanam bawang merah menggunakan benih/biji di Purwakarta – Jawa Barat.

Budidaya bawang merah menggunakan biji atau biasa disebut dengan “pindah tanam” potensi hasil panennya lebih besar dibanding jika menggunakan umbi bibit. Di sisi lain biaya produksinya jauh lebih rendah.

Wildan menerangkan benih bawang merah yang dia tanam adalah varietas TUK TUK yang diproduksi oleh produsen benih sayuran hibrida tropis ‘Cap Panah Merah’ PT East West Seed Indonesia (EWINDO). Untuk area tanam seluas satu hektar, benih yang dibutuhkan sekitar 5 kg atau dengan biaya sekitar Rp 10 juta. Sementara, dengan luasan yang sama umbi bibit yang dibutuhkan dapat mencapai 1,5 ton atau dengan biaya antara Rp 45 – 55 juta.

Jika keberhasilan Wildan dapat diduplikasi ke petani Aceh lainnya, dengan area tanam bawang merah Aceh yang diperkirakan rata-rata seluas 725 ha, maka produksi bawang merah Aceh dapat meningkat hingga 12.325 ton per tahun atau tumbuh lebih dari dua kali lipat produksi saat ini sekitar 5.739 ton per tahun.

Managing Director EWINDO, Glenn Pardede di sela acara Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan KTNA ke-15 di Banda Aceh, menerangkan selain menekan biaya produksi, jika petani dapat menerapkan teknik budidaya bawang merah dari biji maka akan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian umbi bibit. Seperti diketahui, ketergantungan petani terhadap umbi bibit ini membuat Pemerintah terpaksa mengimpor bibit bawang sedikitnya 1.500 ton pada tahun 2016.

Selain itu, dengan menanam bawang merah dari biji petani akan mendapatkan tiga keuntungan. Pertama, biaya transportasi lebih murah karena berbentuk biji. Kedua, benih bisa lebih lama disimpan dalam storage (maksimal 2 tahun) selama tidak terkena sinar matahari. Sementara, dengan sistem konvensional, umbi hanya bisa disimpan antara 2-4 bulan. Ketiga, lebih sedikit terserang penyakit karena benih tidak membawa bulb borne disease seperti virus dan jamur. Selain itu, pemakaian pupuk pun menjadi lebih efisien.

EWINDO sendiri memiliki sejumlah varietas benih bawang merah diantara TUK TUK, LOKANANTA dan SANREN F1.  

“Kami berharap dengan pengenalan cara budidaya ini mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petani bawang merah dan mendukung pengembangan serta kemajuan bidang agro industri khususnya industri hortikultura di Indonesia,” tutup Glenn.