PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

Peresmian Kampung Panah Merah

Senin, 03 Oktober 2016 00:00
Lampung, 29 September 2016, Bertempat di Desa Srikaton, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, seluruh masyarakat bergotong royong untuk membantu acara peresmian tugu PETA dan ENDO sebagai simbol kebanggaan mereka yang akan disebut Kampung Panah Merah. Acara ini dihadiri oleh Bupati Pringsewu, Sujadi Saddad dan juga Direktur Utama EWINDO, Glenn Pardede ditemani Direktur Sales & Marketing, Afrizal Gindow. Tidak hanya tugu yang diresmikan, namun beberapa jalan di Desa Srikaton juga diberi nama sesuai dengan beberapa nama varietas unggulan CAP PANAH MERAH. Hal – hal tersebut tidak begitu saja dibuat namun semua adalah bentuk apresiasi masyarakat Desa Srikaton yang sudah menikmati keuntungan menanam tanaman Hortikultura dengan menggunakan benih CAP PANAH MERAH selama 20 tahun lamanya. Bupati Pringsewu pun mencanangkan bahwa program seperti ini harus disebarkan ke daerah-daerah lainnya. “Kerjasama ini akan terus berlanjut, Tidak hanya di Desa Sri Katon, kita juga akan mengembangkan ke daerah Gadingrejo. Disana telah disiapkan lahan seluas 268 hektar untuk penanaman Hortikultura kedepannya bisa mensejahterakan para petani baik dari hasil panen maupun dari pariwisata Hortikultura” ujarnya.
 
“Kami bangga dapat menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Peringsewu - Lampung untuk mengembangkan Kampung Panah Merah. Pengembangan klaster khusus hortikultura seperti ini selain dapat menjadi sarana penguatan daya saing juga dapat menjadi percontohan dan pusat pembelajaran petani dari daerah lain,” ujar Direktur Utama Ewindo Glenn Pardede. Tanaman hortikultura sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Desa Srikaton, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Pasalanya, sejak tahun 1986 masyarakat setempat sudah berganti alih lahan dari tanaman pangan menjadi budidaya hortikultura. Hingga saat ini, 95 persen dari warga Desa Srikaton memanfaatkan hampir semua lahannya untuk dikelola dengan hortikultura. Mereka menanam cabai, tomat dan terong dengan luasan sekitar 250 hektar.  Keuntungan banyak didulang dari hasil hortikultura mereka yang ditaksir dari seperempat hektar bisa menghasilkan produk 2-3 ton dengan pendapatan yang mencapai Rp. 60 Juta. Jumlah tersebut terhitung lebih kecil dibandingkan menanam tanaman pangan yang hanya mendapat pendapatan sekitar Rp. 6 juta. Keberhasilan tersebut tidak luput dari inovasi dan teknologi tanaman yang diusung oleh EWINDO kepada para petani setempat. 
 
Di sela acara tersebut, EWINDO juga menyerahkan bantuan beasiswa kepada murid – murid berprestasi di berbagai tingkatan sekolah. Tidak hanya beasiswa, EWINDO juga memberikan kesempatan terhadap para mahasiswa untuk menunjukkan hasil inovasi mereka di ajang lomba inovasi bidang pertania. Hal ini memang sudah sering dilakukan dimana EWINDO terus mendorong tidak hanya bidang perekonomian para petani namun bidang pendidikan mereka juga.