PANAH MERAH

Sahabat Petani Yang Paling Baik

Bahasa id Indonesia

Cap Panah Merah Luncurkan Varietas Cabai Tahan Kekeringan

Jumat, 18 September 2015 00:00

Lampung, 17 September 2015 – EWINDO hari ini meluncurkan benih cabai keriting unggul varietas LABA F1. Peluncuran yang dilakukan di Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, dihadiri oleh Managing Director Cap Panah Merah Glenn Pardede, Sales & Marketing Director Cap Panah Merah Afrizal Gindow, intansi dinas pertanian terkait, Konsorsium Cabai Lampung, tiga ratusan petani serta pelaku usaha di industri cabai.

“Peluncuran benih unggul cabai keriting di tengah ancaman musim kemarau panjang ini diharapkan dapat membantu petani hortikultura agar tetap dapat berproduksi dengan optimal meski dengan ketersediaan air yang terbatas. Tujuan utama kami adalah membantu penyediaan benih unggul berkualitas dan mudah diakses oleh petani,” ujar Managing Director Cap Panah Merah Glenn Pardede.  

Menurut Glenn, persoalan utama produktivitas cabai Indonesia saat ini selain keterbatasan luas area tanam adalah terbatasnya pasokan benih unggul berkualitas tinggi. Menurut data Kementrian Pertanian, rata-rata produktivitas cabai besar nasional tahun 2014 sekitar 8,3 ton/ha. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka produktivitas tersebut hanya tumbuh 2,2%. Sementara itu, area panen cabai besar nasional tahun 2014 luasnya sekitar 128 ribu ha dan cenderung tidak terlalu berubah banyak dari tahun ke tahun.

Diperkirakan tahun ini luas area panen cabai besar akan relatif turun mengingat banyaknya petani yang memanfaatkan lahannya untuk menanam padi. Bersamaan dengan itu, musim kering diperkirakan akan berlangsung panjang akibat dampak Elnino sehingga mengancam produktivitas cabai besar nasional.

Sebagai solusi atas kekhawatiran menurunnya produksi cabai besar nasional adalah penggunaan benih cabai unggul yang memiliki produktivitas tinggi meskipun ditanam pada musim kering. Cabai keriting LABA F1 memiliki potensi produksi hingga 20 ton/ha jauh di atas rata-rata produktivitas cabai nasional. Potensi produksi optimal tersebut dapat tercapai baik ketika dibudidayakan di dataran rendah dan menengah. Buah cabai LABA F1 memiliki daging merah dan tebal, biji terisi penuh sehingga rasanya sangat pedas, tidak mudah susut dan tahan terhadap pengangkutan jarak jauh. LABA F1 juga memiliki buah besar dan keras sehingga walaupun di musim kering bisa menghasilkan hingga 20 ton /ha.

Selain itu, cabai LABA F1 juga tahan terhadap serangan jamur dan bakteri penyebab penyakit. Diantaranya jamur Phytopthora capsici penyebab busuk akar dan bakteri Ralstonia solanacearum penyebab layu bakteri. Penyakit layu ini dikenal sangat menakutkan bagi petani karena  menyebabkan tanaman mati dan gagal panen. Akibat serangan layu yang parah, kematian tanaman bisa mencapai hingga 70 %.

LABA F1 juga tahan terhadap ujung buah kuning. Ujung buah kuning merupakan indikator kekurangan unsur kalsium (Ca). Gejalanya adalah ujung buah yang belum matang terlihat berwarna kekuningan hingga berubah menjadi kecoklatan. Jaringan akan mengalami kerusakan yang berefek pada perubahan warna buah menjadi merah pucat dan rontok. Kondisi ini akan mempengaruhi volume dan kualitas produksi yang dihasilkan tanaman.

"Melalui penyediaan benih unggul dan pembinaan kepada petani kami optimistis mampu membantu mendorong produktivitas cabai Indonesia. Hal ini juga selaras dengan misi Cap Panah Merah untuk menyediakan benih berkualitas tinggi agar dapat meningkatkan pendapatan petani dan memperbesar konsumsi sayuran," tutup Glenn.